Scroll untuk baca artikel
Investasi

Vale Bawa Pengelolaan Sampah Sorowako ke Pameran Lingkungan Internasional

25
×

Vale Bawa Pengelolaan Sampah Sorowako ke Pameran Lingkungan Internasional

Sebarkan artikel ini

Perusahaan tambang nikel ini pamerkan program berbasis maggot BSF dan Emberisasi yang olah 12-15 ton sampah per hari

JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk memamerkan praktik pengelolaan sampah berkelanjutan dari Sorowako, Luwu Timur, di ajang Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference (Invirotech) 2026. Pameran yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) berlangsung 11–13 Juni 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).

Mengusung tema “Green Solution Technology for Climate Action”, booth PT Vale dikunjungi Menteri LH/Kepala BPLH Moh Jumhur Hidayat. Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Bernardus Irmanto turut menyambut langsung di lokasi.

Maggot BSF dan Emberisasi dari Rumah Karyawan

Vale membawa sejumlah inovasi yang sudah berjalan di area operasinya. Salah satunya pengolahan sampah organik berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF) di komunitas sekitar Sorowako.

Untuk skala rumah tangga, perusahaan menjalankan program Emberisasi sejak Desember 2024. Program ini mewajibkan pemilahan sampah organik langsung dari sumber. Dimulai dari 100 rumah karyawan di Perumahan Pontada, Emberisasi kini mengumpulkan rata-rata 100 kilogram sampah organik per hari. Ember berisi sisa makanan diletakkan di luar rumah tiap malam untuk diangkut tim pengelola. Vale berencana mereplikasi skema ini ke masyarakat umum sekitar Sorowako.

Olah 15 Ton Sampah per Hari, Nol ke TPA 2050

Seluruh sampah yang terkumpul masuk ke fasilitas pemilahan atau Segregation Plant. Fasilitas ini menangani 12 hingga 15 ton sampah organik dan anorganik per hari. Dari jumlah itu, 500 sampai 700 kilogram diolah menjadi kompos.

Sebagian sampah organik lain dijadikan pakan maggot BSF. Maggot dewasa lalu dimanfaatkan sebagai pakan ikan. “Ini menciptakan siklus ekonomi sirkular dari sampah,” kata Bernardus Irmanto, Kamis, 11 Juni 2026.

Untuk sampah anorganik bernilai seperti plastik, botol kaca, dan scrap besi, Vale menyalurkannya ke bank sampah dan BUMDes. Total donasi mencapai empat ton sampah terpilah per tahun. Perusahaan menganggarkan lebih dari Rp 700 juta per tahun untuk ekosistem pengelolaan sampah ini.

“Bukan Sekadar Konsep”

Bernardus menegaskan yang dibawa ke Jakarta bukan gagasan di atas kertas. “Apa yang kami bawa ke Jakarta bukan sekadar konsep. Ini adalah apa yang nyata terjadi di Sorowako. Dari rumah karyawan, ke fasilitas pengomposan, hingga warung yang memasak menggunakan gas dari sampah,” ujarnya.

Menurut dia, ekosistem yang dibangun menghubungkan tiga kelompok: karyawan, komunitas, dan pemerintah daerah. “Kami percaya bahwa perusahaan tambang bisa dan harus menjadi bagian dari solusi lingkungan, dan ini adalah bukti kami,” kata Bernardus.

Di Invirotech 2026, PT Vale berada di booth bersama MIND ID dan anggota holding lainnya. Partisipasi ini disebut selaras dengan agenda Indonesia ASRI dan visi Indonesia Emas 2045 dalam koridor Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Sebagai produsen nikel, PT Vale menargetkan nol sampah ke tempat pemrosesan akhir (TPA) pada 2050.

 

 

(Yohanes)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250 Example 728x250 Example 728x250