Scroll untuk baca artikel
Hukum

Tambang Batu di Bente, Morowali: Jalan Rusak, Negara Rugi, Warga Gigit Jari

7
×

Tambang Batu di Bente, Morowali: Jalan Rusak, Negara Rugi, Warga Gigit Jari

Sebarkan artikel ini

MOROWALI — Di Desa Bente, Bungku Tengah, truk-truk pengangkut batu galian C meraung tiap hari. Aspal jalan desa hancur, debu mengepul ke rumah warga, sawah menguning sebelum panen. Tapi kas daerah Morowali? Kosong.

Aktivitas tambang batu yang kian liar di sejumlah titik Bente kini memicu kemarahan warga. Kerusakan lingkungan dan infrastruktur dianggap wajar. Yang tak wajar: negara hampir tak dapat apa-apa.

Pantauan Selasa malam 16/6/2026 menunjukkan badan jalan kabupaten dan desa — satu-satunya urat nadi warga — ambrol dilindas truk bermuatan berlebih. Debu batu menyelimuti permukiman. Suara mesin menggerus jam tidur dan kesehatan anak-anak.

“Jalan desa sudah bolong-bolong lagi. Pemerintah Desa Bente seperti tutup mata,” kata seorang warga yang minta namanya tak ditulis. Kalimatnya pendek, tapi menohok.

Kebocoran terjadi di titik paling vital: penerimaan daerah. Hamlin, Kepala BPPD Morowali, tak menampik. Saat dikonfirmasi, ia menyebut banyak tambang batu beroperasi tanpa izin, atau punya izin tapi “lupa” lapor volume produksi.

Akibatnya rantai penerimaan putus. Royalti tak masuk. Pajak daerah mandek. Retribusi angkutan hilang. Potensi PAD Morowali menguap, sementara kerusakan ditanggung publik.

Ironinya, galian C seharusnya jadi sumber PAD yang cepat dan nyata. Di Morowali, yang terjadi sebaliknya: eksploitasi jalan, alam yang digerus, tapi kas daerah nihil kontribusi.

Warga Bente kini menuntut satu hal: tertibkan. Tegas. Audit izin, kejar tunggakan fiskal, dan paksa pengusaha memulihkan jalan serta lingkungan. Jika tidak, kerusakan hari ini akan jadi utang pembangunan Morowali bertahun-tahun ke depan.(*)

 

 

 

 

(Redaksi / Whatsapp ; 081371835194)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *