MAKASSAR – Gelombang kemarahan buruh PT Mitra Mineral Perkasa (MMP) di bawah PT Bima Cakra Perkasa Mineralindo (BCPM) Morowali memicu reaksi keras dari Makassar. Ikatan Mahasiswa (IMA) Sulteng Makassar resmi mengecam dan mengutuk tata kelola perusahaan yang dinilai sewenang-wenang.
Ketua IMA Sulteng Makassar, Muh. Afdal Saputra menyebut aksi mogok ratusan buruh di Desa Laroenai, Bungku Pesisir, Sabtu malam (30/05/2026) sebagai ledakan amarah yang tak bisa dibendung lagi.
“Kami satu barisan dengan buruh Morowali! Ini perlawanan sah terhadap kesewenang-wenangan. Buruh tidak akan mundur sebelum intimidasi PT MMP-BCPM dihentikan total!” tegas Ketua IMA Sulteng dalam pernyataan resminya malam ini.
Tiga Dosa Besar PT MMP-BCPM Versi IMA Sulteng Makassar:
-Kontrak Bodong: Perusahaan dituding sengaja menerbitkan kontrak tanpa legalitas hukum untuk menghindari tanggung jawab dan melemahkan posisi tawar buruh.
-Perbudakan Modern: Buruh dipaksa kerja 49 jam per minggu, melanggar batas regulasi 40 jam, tanpa kejelasan upah lembur.
-Pembangkangan Upah 2026: Perusahaan menahan penyesuaian upah pokok 2026 yang sudah berlaku di perusahaan lain di Morowali.
IMA Sulteng Makassar juga mengecam sikap Humas Eksternal PT BCPM, Prisilia, yang bungkam saat dikonfirmasi media. Sikap itu dinilai sebagai bukti manajemen anti-transparansi dan pengecut menghadapi tuntutan normatif karyawan.
Ultimatum dari Makassar
“Tanah Morowali dikeruk habis, tapi manusianya diperas seperti budak. Jika PT MMP-BCPM tidak segera bereskan kontrak ilegal, pulihkan jam kerja, dan naikkan upah sesuai aturan 2026, gelombang solidaritas mahasiswa dari Makassar akan bergerak!” ancam Ketua IMA Sulteng Makassar.
“Kami tidak akan diam melihat saudara kami ditindas di kampung halaman sendiri!” tutupnya.
IMA Sulteng Makassar memberi sinyal: jika tuntutan buruh tak dipenuhi, aksi solidaritas lintas daerah siap digelar.
(Yohanes)















