Scroll untuk baca artikel
Sosial

Mahasiswi Asal Sambalagi di Palu Minta Transparansi dan Prioritas Kerja untuk Warga Lokal

0
×

Mahasiswi Asal Sambalagi di Palu Minta Transparansi dan Prioritas Kerja untuk Warga Lokal

Sebarkan artikel ini

MOROWALI – Dari kejauhan Kota Palu, suara kepedulian untuk kampung halaman tetap lantang. Adalah Marsha Nur Ainiyyah, mahasiswi asal Desa Sambalagi yang kini kuliah di Palu, ikut menyuarakan aspirasi warganya soal transparansi dan kesempatan kerja lokal.

Bagi Marsha, jarak bukan alasan untuk diam melihat kondisi di tanah kelahirannya.

“Walaupun saat ini saya sedang berada di Palu untuk menempuh pendidikan, saya tetap bagian dari masyarakat Sambalagi. Jarak tidak membuat saya berhenti peduli terhadap apa yang terjadi di kampung halaman saya,” ujar Marsha, Rabu(23/09//2026)

Putri daerah Sambalagi ini menegaskan, ia bersuara bukan untuk mencari ribut, melainkan untuk memastikan hak warganya didengar.

“Ini bukan untuk menyudutkan pihak tertentu. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa masyarakat Sambalagi punya hak untuk didengar, dilibatkan, dan mendapatkan penjelasan yang transparan,” tegasnya.

Jangan Bawa Nama Rakyat untuk Kepentingan Segelintir Orang

Marsha menyoroti keras soal penggunaan nama masyarakat. Menurutnya, jika mengatasnamakan rakyat, maka hasilnya harus kembali ke rakyat dan bisa dipertanggungjawabkan secara terbuka.

“Nama masyarakat jangan sampai digunakan untuk kepentingan segelintir orang. Kalau memang membawa nama rakyat, maka kepentingannya harus benar-benar kembali kepada rakyat,” katanya.

Soroti Tenaga Kerja Lokal: Beri Kami Ruang, Bukan Janji

Isu yang paling disorotinya adalah soal lapangan kerja. Ia miris jika anak muda Sambalagi hanya menjadi penonton di tengah ramainya aktivitas industri di wilayah mereka.

“Anak-anak muda Sambalagi juga punya kemampuan, punya semangat, dan punya cita-cita. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri,” ungkapnya.

Marsha meminta perusahaan dan pihak terkait tidak hanya memberi janji, tapi program nyata. Salah satunya pelatihan keterampilan yang benar-benar dirasakan.

“Kalau keterampilan masih kurang, berikan pelatihan. Kalau ada kesempatan kerja, berikan ruang kepada tenaga kerja lokal. Masyarakat tidak hanya membutuhkan janji. Yang dibutuhkan adalah program yang nyata,” tegasnya.

Ia juga mendorong konsep Vocational Training Multi-Skill agar tidak hanya jadi wacana.

“Berikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk belajar, mendapatkan keterampilan, kemudian bekerja dan berkembang di daerahnya sendiri,” ujarnya.

Bagi Marsha, masyarakat harus naik kelas, bukan sekadar penerima dampak.

“Kami ingin masyarakat Sambalagi bukan hanya menjadi penerima dampak, tetapi juga diberikan ruang untuk menjadi mitra dan bagian dari kegiatan ekonomi di wilayahnya,” katanya.

Belajar di Palu, Hati Tetap di Sambalagi

Pendidikan yang ia tempuh di Palu justru membuatnya semakin sadar bahwa anak muda tidak boleh apatis dengan kampung halaman.

“Saya percaya anak muda tidak boleh hanya memikirkan masa depannya sendiri. Kita juga harus peduli dengan kampung halaman dan masyarakat tempat kita berasal,” tuturnya.

Di akhir, ia berharap aspirasi ini tidak berhenti pada janji manis.

“Kami tidak meminta belas kasihan. Kami meminta transparansi, kesempatan, keterlibatan, dan penghormatan terhadap masyarakat. Kalau masyarakat sudah menyampaikan aspirasi, maka jangan berhenti pada janji. Berikan jawaban dan buktikan melalui tindakan,” pungkas Marsha.

 

 

(Redaksi/Whatsapp;081371835194)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *