MAKASSAR– Amarah mahasiswa pecah. Ikatan Mahasiswa Sulawesi Tengah di Makassar atau IMA SULTENG Makassar secara terbuka menuding adanya praktik pungli proyek sistematis di Kecamatan Menui Kepulauan, Kabupaten Morowali.
Modusnya disebut “setoran” 6% yang dikendalikan oleh oknum berinisial S. Angka ini naik dari 5% tahun lalu. Bagi IMA SULTENG, ini bukan lagi kebiasaan buruk, tapi penggarongan uang rakyat yang dilakukan terang-terangan.
“Ini upaya penggarongan uang rakyat secara terang-terangan. Oknumnya sudah keterlaluan karena merasa kebal hukum,” tegas Afdal Saputra selaku Ketua IMA SULTENG Makassar, Kamis(21/05/2026)
3 Tuntutan Keras IMA SULTENG Makassar
Mahasiswa tidak main-main. Mereka menembak langsung tiga institusi kunci di Morowali:
1. Bersihkan Daftar Titipan Proyek
IMA SULTENG mendesak Dinas PUPR, Dinas Perumahan, dan BPBD Morowali untuk menolak mentah-mentah semua daftar proyek titipan dari oknum S. Kalau diterima, itu artinya ikut bersekongkol dalam korupsi.
2. DPRD Morowali Harus Bentuk PANSUS
DPRD didesak tidak hanya diam. Kalau bukti penyelewengan kuat, bentuk Panitia Khusus sekarang juga. Jangan biarkan lembaga legislatif jadi penonton.
3. Polisi dan Kejaksaan Jangan Tidur
Catatan pagu anggaran yang disandingkan dengan kolom persentase fee disebut sebagai bukti awal yang sangat kuat. APH diminta masuk sebelum uang negara cair dan hilang.
Pengusaha Lokal Dibunuh, Infrastruktur Jadi Korban
Dampaknya langsung terasa di lapangan. Praktik bagi-bagi jatah proyek tanpa lelang sehat membuat UMKM di Morowali mati kutu.
Anggaran dipotong 6% di awal. Hasilnya? Infrastruktur asal jadi dan kualitas anjlok. Yang paling rugi adalah warga Menui Kepulauan. Mereka dapat bangunan “setengah hati” karena dananya sudah dikerat duluan untuk upeti.
“Kami mahasiswa asal Sulteng di Makassar tidak akan diam. Tanah kelahiran kami jangan dijadikan ladang rampok oleh oknum berdasi. Kami kawal kasus ini sampai Morowali bersih dari KKN,” tutup Ketua IMA SULTENG Makassar.
(Yohanes)















