Keterangan foto: Ekskavator Komatsu mengeruk material di kaki tebing galian C, Jalan Wirabuana RT 10 RW 02 Kelurahan Lamberea, Bungku Tengah, Morowali, 14 Juni 2026. Tebing terjal di atas permukiman dan SDN 14 Bungku Tengah memicu kekhawatiran longsor warga. Foto: Dokumentasi Warga
MOROWALI — Luka di punggung bukit Kelurahan Lamberea makin dalam. Aktivitas galian C di Jalan Wirabuana, RT 10 RW 02, Bungku Tengah, terus berjalan. Sementara laporan warga menumpuk tanpa jawaban.
Sudah berbulan-bulan, truk keluar-masuk mengeruk material di kawasan permukiman. Warga sudah mengetuk pintu Kelurahan Lamberea, Kantor Camat Bungku Tengah, hingga Polsek Bungku Tengah. Tanda tangan penolakan pun dikumpulkan. Hasilnya: nihil.
“Setiap aduan mentah. Galian jalan terus seolah tak ada yang berani menyentuh,” kata seorang warga yang minta identitasnya dirahasiakan, Minggu 14/6/2026.
Risikonya nyata dan berlapis. Lokasi galian tepat di jalur evakuasi. Jika bencana datang, jalan keluar warga bisa buntu. Jaraknya hanya sekitar 10 meter dari SDN 14 Bungku Tengah. Anak-anak sekolah dan guru setiap hari berhadapan dengan tebing yang dikerat.
Lebih berbahaya lagi, titik galian berada di punggungan bukit, di atas permukiman. Warga khawatir getaran dan kikisan terus-menerus memicu longsor. Rumah mereka yang di bawah bukit paling pertama terancam.
Pertanyaannya sederhana: di mana pengawasan? Legalitas galian, kajian dampak lingkungan, dan tindakan penegakan hukum sampai hari ini tak terlihat. Pemerintah daerah dan aparat penegak hukum didesak turun, memeriksa izin, dan mengevaluasi dampak. Jika ada pelanggaran, warga minta tindakan tegas, bukan janji.
Sampai berita ini ditulis, galian C di Lamberea masih menganga. Warga masih menunggu: apakah negara hadir sebelum bukit itu runtuh?
(Yohanes / Whatsapp : 081371835194)












