Scroll untuk baca artikel
Hukum

RS Pepakulia Mangkrak, IMA Sulteng Tuding Oknum DPRD Morowali Mainkan Proyek Miliaran

1
×

RS Pepakulia Mangkrak, IMA Sulteng Tuding Oknum DPRD Morowali Mainkan Proyek Miliaran

Sebarkan artikel ini

Afdal Saputra, di atas Mobil sound saat orasi di tempat berbeda

 

MAKASSAR — Kerangka beton RSUD Pepakulia di Bumi Raya, Morowali, kini jadi monumen kegagalan. Ikatan Mahasiswa Asal Sulawesi Tengah Makassar, IMA Sulteng, menyebut proyek miliaran itu mangkrak bukan karena bencana, tapi karena “syahwat politik dan pemburuan rente”.

Ketua Umum IMA Sulteng Makassar, Afdal Saputra, menuding ada campur tangan oknum anggota DPRD Morowali aktif. Modusnya klasik: pinjam nama istri atau anak agar lolos dari radar LPSE.

“Ini tamparan bagi nalar publik. Warga Bumi Raya bertaruh nyawa ke Kolonodale demi rujukan, wakilnya malah diduga main mata pakai perusahaan keluarga,” tegas Afdal dalam rilis resmi, Minggu 14/6/2026.

Modus Lama, Celah Baru

Mahasiswa menyorot kekosongan data beneficial ownership di dokumen tender perencanaan teknis. Celah itu, kata mereka, sengaja dimanfaatkan agar konflik kepentingan tak terdeteksi.

Secara hukum, praktik itu tabrakan langsung dengan Pasal 23 UU 30/2014 tentang Administrasi Pemerintahan. Aturan itu melarang penyelenggara negara meraup untung dari jabatan untuk diri dan keluarga dekat.

Anehnya, saat dikonfirmasi, Ketua DPRD Morowali, Dinas Kesehatan, hingga Direktur RSUD Pepakulia kompak bungkam. IMA Sulteng menilai diam itu sama dengan mengabaikan akuntabilitas publik.

Tiga Tuntutan ke Aparat

Tekanan kini mengarah ke penegak hukum. IMA Sulteng melontarkan tiga maklumat:

1. Panggil & periksa aliran dana. Mendesak KPK dan Kejati Sulteng mengusut tuntas dana Tahap I RS Pepakulia 2023. Aktor intelektual di balik perusahaan pemenang harus diseret.
2. Bersihkan dari dalam. Tuntut Badan Kehormatan DPRD Morowali investigasi internal. Marwah legislatif dipertaruhkan.
3. Buka dokumen sengketa. Desak Pemkab Morowali mempublikasikan sengketa lahan dan kasih kepastian kapan RS Pepakulia bisa dipakai warga Bumi Raya.

“Daerah ini kaya industri, tapi miskin layanan dasar. Kami tidak akan diam,” tutup Afdal. IMA Sulteng berjanji mengonsolidasikan mahasiswa perantauan untuk mengawal kasus ini sampai tuntas.

 

 

(Yohanes / Whatsapp : 081371835194)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *