Abdul Malik, SH., MH.,
Morowali, Sulawesi Tengah — Praktisi hukum Morowali, Abdul Malik,SH., MH., menyampaikan kegeramannya terhadap sikap Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang dinilai belum menunjukkan respons apa pun terkait kematian bayi milik ibu Ramdhana yang terjadi pada 22 November 2025. Kasus ini diduga berkaitan dengan kelalaian tenaga medis.
Hingga hari ke-13 pasca kejadian, berbagai pihak mulai dari Bupati Morowali, DPRD Morowali, hingga Polres Morowali telah turun tangan menindaklanjuti kasus tersebut. Namun, menurut Abdul Malik, justru organisasi profesi yang memiliki peran penting dalam pengawasan etik kedokteran belum memberikan sikap, bahkan sekadar menyampaikan belasungkawa.
“IDI adalah organisasi profesi yang menaungi dokter, termasuk memberikan sanksi jika terjadi pelanggaran. Di bawahnya ada MKEK yang memiliki kewenangan menyidangkan pelanggaran etik dokter. Tapi sampai hari ini, saya belum mendengar apa pun langkah yang dilakukan IDI Morowali,” tegas Abdul Malik.
Ia mempertanyakan apakah IDI menunggu laporan dari keluarga korban sebelum melakukan tindakan. Menurutnya, kondisi psikologis ibu Ramdhana yang masih lemah seharusnya membuat IDI lebih proaktif melakukan pemeriksaan internal terhadap dokter yang terlibat.
“Harusnya IDI berinisiatif turun langsung melakukan pemeriksaan, bukan diam. Ini momentum bagi IDI untuk berbenah di tengah banyaknya masukan masyarakat agar dapat melahirkan dokter yang profesional,” ujarnya.
Abdul Malik juga menyoroti kecenderungan IDI yang menurutnya hanya bersuara ketika ada dokter ditetapkan sebagai tersangka, namun seolah menghilang ketika masyarakat menjadi korban dugaan malpraktik.
“Kalau begini terus, jangan salahkan masyarakat kalau berpikir IDI hanya menjadi wadah untuk melindungi oknum dokter yang salah,” tambahnya.
Aktivis yang dikenal vokal terhadap isu-isu publik di Morowali ini juga mengajak seluruh elemen masyarakat—pemerintah, mahasiswa, hingga kelompok aktivis— untuk tetap konsisten menyuarakan keadilan bagi ibu Ramdhana agar kejadian serupa tidak terulang.
“Pertanyaannya, IDI butuh berapa mayat bayi lagi di Morowali supaya mau responsif dan turun tangan mengevaluasi dokter? Kasus serupa bahkan terjadi di Jayapura, di mana ibu Irene Sokoy dan bayinya meninggal setelah ditolak empat rumah sakit,” ujarnya.
Dari pantauan media, sekretariat IDI Morowali berada di RSUD Morowali Bungku—rumah sakit yang sama dengan tempat rujukan setelah ibu Ramdhana sebelumnya dipaksa melahirkan normal di Puskesmas. Kondisi ini, menurut Abdul Malik, semakin menguatkan dugaan adanya kecenderungan saling melindungi dalam lingkup profesi.
(Yohanes)















