Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Muara Tertutup Pasir, Nelayan Desa Parelangke Morowali Kehilangan Akses Laut Selama 2 Pekan

141
×

Muara Tertutup Pasir, Nelayan Desa Parelangke Morowali Kehilangan Akses Laut Selama 2 Pekan

Sebarkan artikel ini

Kondisi muara Desa Parelangke, Kecamatan Bumi Raya, Morowali, yang tertutup pasir hingga kolong jembatan. Puluhan perahu nelayan tampak terparkir dan tidak bisa melaut selama dua pekan. Foto: Tangkapan layar video Bahar, 13/6/2026

MOROWALI — Akses nelayan Desa Parelangke, Kecamatan Bumi Raya, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, ke laut lepas lumpuh total sejak dua pekan terakhir. Muara sungai yang menjadi satu-satunya jalur keluar-masuk perahu tertutup timbunan pasir hingga ke kolong jembatan.

Kondisi itu membuat seluruh armada perahu nelayan terkurung di muara. Aktivitas melaut berhenti, sementara ketergantungan warga Desa Parelangke terhadap laut sebagai sumber penghidupan utama tidak bisa digantikan.

“Ini sudah darurat. Nelayan sudah dua minggu tidak bisa melaut. Semua perahu berkumpul di situ karena muara tertutup,” ujar Bahar, warga Desa Parelangke, dalam video yang direkam di tepi pantai Laut Sulawesi, Sabtu 13/6/2026. Video tersebut kini beredar di kalangan warga Morowali dan menjadi bentuk pengaduan publik.

Dampak ekonomi langsung terasa

Lumpuhnya muara tidak hanya menghentikan aktivitas penangkapan ikan. Rantai ekonomi desa ikut terhenti. Tidak ada pasokan ikan segar, tidak ada pendapatan harian bagi nelayan, dan daya beli rumah tangga pesisir menurun drastis.

Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Morowali bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD segera turun tangan. Permintaan warga terfokus pada pengerahan alat berat untuk normalisasi muara agar jalur laut kembali terbuka.

“Kami mohon dengan sangat kepada Bapak Bupati Morowali dan BPBD Morowali untuk segera memberikan bantuan darurat. Buka muara ini, Pak,” kata Baso.

Tantangan pengelolaan muara di pesisir Morowali

Penutupan muara akibat sedimentasi dan abrasi memang kerap terjadi di wilayah pesisir Sulawesi Tengah, terutama saat musim peralihan. Namun, ketika muara menjadi satu-satunya akses bagi ratusan kepala keluarga nelayan, keterlambatan penanganan berisiko menimbulkan krisis ekonomi lokal.

Hingga Sabtu sore, belum ada keterangan resmi dari Pemkab Morowali maupun BPBD Morowali terkait rencana intervensi. Sementara itu, waktu terus berjalan. Setiap hari tanpa solusi berarti satu hari lagi ratusan nelayan Parelangke tidak dapat menggantungkan hidup pada lautnya sendiri.

 

 

(Yohanes / Whatsapp : 081371835194)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *