Morowali, 22 Mei 2026 – Di Desa Sambalagi, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, sebuah konsep industri baru sedang tumbuh. International Green Industrial Park (IGIP) tidak hanya membangun pabrik nikel dan energi baru, tapi juga merajut ekonomi warga agar naik kelas bersama.
Kawasan ini lahir dengan satu ide besar: industri, teknologi, lingkungan, dan masyarakat harus jalan beriringan dalam satu ekosistem.
“Tumbuh Bersama Masyarakat”, Bukan Sekadar Slogan
IGIP menempatkan warga sekitar sebagai pelaku, bukan penonton. Melalui program pemberdayaan di Desa Sambalagi dan Desa Were’ea, masyarakat kini masuk ke rantai pasok industri modern.
Dari transportasi, konstruksi, kebersihan, distribusi pangan, hingga layanan operasional—semuanya digerakkan oleh tangan-tangan lokal.
Humas IGIP, Ricco Andrean William, menegaskan komitmen ini:
“Pengembangan kawasan industri harus memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar. Kami ingin pertumbuhan industri berjalan seiring dengan pertumbuhan komunitas dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.”
100+ Lapangan Kerja Baru, Rp2 Miliar Mengalir ke Warga
Dampaknya sudah terasa. IGIP mencatat lebih dari 100 lapangan kerja baru tercipta untuk warga lokal, mulai dari tenaga konstruksi, pengemudi, petugas kebersihan, bongkar muat, hingga operator logistik.
Kerja sama dengan perusahaan transportasi lokal juga bergerak cepat. Sebanyak 19 kendaraan dioperasikan dengan seluruh pengemudi berasal dari masyarakat sekitar. Hasilnya? Lebih dari 400 perjalanan sudah dilakukan, dengan pendapatan warga mencapai Rp464 juta.
Di sektor pangan, 8 warga lokal kini jadi pemasok sayur rutin untuk kebutuhan kawasan. Antara September 2025 hingga Maret 2026, pembayaran yang disalurkan ke pemasok lokal tembus Rp2,09 miliar.
Semua ini dijalankan dengan pola kolaborasi “Perusahaan + Badan Usaha Desa + Masyarakat”. Bukan cuma uang yang mengalir, tapi juga keterampilan dan pengalaman manajerial yang ikut naik level.
Industri Hijau Berbasis ESG: Produksi, Kehidupan, Ekologi
IGIP tidak berhenti di ekonomi. Kawasan ini dirancang sebagai pusat industri energi baru dan hilirisasi nikel berbasis prinsip ESG – Environmental, Social, and Governance.
Dengan investasi total sekitar 500 juta dolar AS, IGIP mengusung konsep “Production + Life + Ecology”:
– Energi rendah karbon dan transportasi listrik
– Pengelolaan lingkungan terpadu dan konservasi biodiversitas
– Ruang hijau & wetland park untuk menjaga keseimbangan ekologi
– Ekonomi sirkular & pengelolaan limbah terintegrasi
Tujuannya jelas: pertumbuhan ekonomi jalan, lingkungan tetap lestari, masyarakat sejahtera.
Transfer Teknologi Lewat Pendidikan
Untuk memastikan SDM lokal siap, IGIP menggandeng institusi pendidikan dan riset. Salah satunya kolaborasi dengan Central South University, Tiongkok, untuk memperkuat kapasitas talenta Indonesia di sektor energi baru dan hilirisasi mineral.
Langkah ini bagian dari strategi jangka panjang: membangun tenaga kerja terampil yang bisa bersaing di industri global.
Ke Depan: Ekosistem Industri yang Inklusif dan Berkelanjutan
IGIP berencana memperluas kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lain. Targetnya satu: menjadikan Morowali sebagai contoh transformasi ekonomi daerah yang inklusif, modern, dan berkelanjutan.
Di balik ekspansi industri hijau ini, ada pesan sederhana—pembangunan yang baik adalah yang membuat semua pihak tumbuh bersama.(*)















