MOROWALI – Pagi-pagi buta di lingkar industri IMIP, Bahodopi, sudah ada yang kayuh sepeda. Bukan buat lomba. Bukan buat gaya-gayaan. Tapi beneran buat berangkat kerja.
Di tengah rutinitas pabrik yang jalan 24 jam, sebagian karyawan IMIP mulai mengubah cara mereka ke tempat kerja. Sepeda kayuh jadi pilihan. Alasannya sederhana: mau lebih sehat, mau lebih hemat, dan mau suasana baru biar nggak jenuh.
Salah satunya Kesya, 27 tahun. Cewek asal Mangkutana, Luwu Timur ini kerja sebagai Chemical Analyst di Divisi Testing Center PT Tsingjian Technology Research Indonesia atau TTRI. Tiga tahun dia bolak-balik naik motor dari indekos di Bahomakmur ke pabrik. Lama-lama bosen. Badannya juga kerasa kurang gerak karena kerja di laboratorium seharian.
Akhir 2024 iseng-iseng dia coba gowes keliling Bahodopi. Eh ketagihan. Masuk 2025, Kesya mantap. Sepeda gunung yang dia beli saat cuti di Makassar resmi jadi kendaraan dinas.
“Saya awalnya cuma ingin memanfaatkan waktu untuk berolahraga, karena setiap hari kerja, kurang kegiatan fisik. Lalu saya terpikir, rasanya bagus ya, sebelum pergi kerja sambil berolahraga,” kenangnya.
Sekarang, minimal 4 kali seminggu Kesya gowes ke terminal bus IMIP. Jaraknya ditempuh 15-20 menit. Kalau shift pagi masuk jam 7, dia sudah berangkat jam 5 subuh. Shift sore berangkat jam 1 siang. Shift malam berangkat jam 9 malam. Dari terminal baru lanjut naik bus perusahaan ke lokasi kerja.
Awalnya cuma buat olahraga. Lama-lama jadi konten. Video vlog gowesnya di TikTok yang pertama kali diupload Juni 2025 ternyata FYP. Penontonnya banyak. Dari situ dapat uang jajan tambahan. Tapi yang lebih penting, motivasinya nambah. “Tiba-tiba motivasiku bertambah satu lagi, mengajak orang-orang lain di sini untuk naik sepeda,” ujarnya.
Cerita beda datang dari Fikriyanto Rauf, 26 tahun. Karyawan PT Guangchingde Metal Rolling bagian Control Room ini justru “terpaksa” pindah ke sepeda. Motornya rewel terus. Servis sana-sini habis lebih dari Rp3 juta. Akhirnya motor dipulangkan ke Bolaang Mongondow, Sulut.
Maret 2026 dia beli sepeda seharga Rp2 juta. Awalnya nggak kepikiran. Tapi setelah dijalanin, banyak untungnya. “Kalau dipikir-pikir, karena harga premium naik, pakai motor mungkin akan lebih banyak pengeluaran. Maka saya coba mengirit-iritlah dengan naik sepeda,” kata Fikri.
Selain hemat bensin, Fikri juga nggak pusing macet di jam-jam sibuk menuju kawasan industri. Dari gowes sendirian, dia akhirnya gabung komunitas Dopi Bike di Bahodopi. Di sana bukan cuma gowes bareng, tapi juga saling bantu kalau rantai lepas atau ban kempes. Solidaritasnya kuat.
Perubahan paling kerasa ada di badan. Kesya bilang berat badannya turun, lebih fit, dan nggak gampang ngantuk pas jaga di lab. Fikri juga menjadikan gowes sebagai hobi di akhir pekan.
Bonusnya lagi, dompet lebih aman. Kesya ngaku sekarang isi bensin 1 liter buat motornya bisa kepake sampai seminggu lebih. “Jauh lebih hemat,” timpalnya. Belum lagi soal lingkungan. Dengan gowes, emisi kendaraan berkurang. Langkah kecil tapi dampaknya nyata.
Kisah Kesya dan Fikri membuktikan satu hal. Perubahan besar nggak harus dimulai dari hal besar. Cukup dari satu kayuhan. Konsisten. Lama-lama jadi kebiasaan baik.
“Bersepeda itu rasanya senang, coba saja. Dari situ kita bisa punya perubahan setiap hari. Minimal setiap tahun sebaiknya ada yang berubah lebih baik dari diri kita,” pesan Kesya sambil tersenyum setelah sampai di terminal.
Di kawasan IMIP yang dikenal keras dan sibuk, kolase kecil ini jadi pengingat. Bahwa di sela rutinitas, masih ada ruang untuk hidup lebih sehat, lebih hemat, dan lebih bahagia. Cukup dengan dua roda dan semangat.(*)












