MOROWALI, bedahnusantaraindonesia.id — International Green Industrial Park (IGIP) Morowali benar-benar dalam situasi genting. Desa Sambalagi, Kecamatan Bungku Pesisir meledak pada Rabu, 30 September 2026. Ratusan massa yang mengatasnamakan Perusahaan Bongkar Muat (PBM) Lokal Desa Sambalagi bersama Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Kabupaten Morowali mengepung dan menggelar aksi unjuk rasa damai yang berujung pada drama penghentian aktivitas perusahaan.
Dari keterangan Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Irfan, membenarkan aksi besar tersebut masih berlangsung hingga detik ini. Massa datang bukan tanpa alasan, mereka datang membawa luka lama yang terus menganga, yakni dugaan pengkhianatan terhadap janji manis pemberdayaan lokal yang pernah diucapkan oleh pihak perusahaan sendiri.
Suasana di lapangan begitu memanas. Orator aksi dengan suara lantang membongkar borok yang selama ini ditutupi. Ia menegaskan persoalan bongkar muat ini bukan persoalan sepele, ini adalah persoalan hidup matinya Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Morowali. Ketika PBM lokal diberdayakan, uang akan berputar di Morowali, ekonomi rakyat akan hidup, jalan-jalan desa akan dibangun, rumah sakit akan berdiri megah, sekolah-sekolah untuk anak pesisir akan layak. Namun ketika PBM lokal dimatikan, maka PAD Morowali hilang, ekonomi rakyat pesisir mati, dan Morowali hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri yang kaya raya.
Fakta paling memalukan yang diungkap massa adalah adanya kesepakatan sakral pemberdayaan pengusaha lokal yang telah ditandatangani bersama pada tahun 2023 di era Bupati Morowali Bapak Taslim. Kesepakatan itu adalah marwah dan harga diri Pemerintah Daerah Morowali yang seharusnya dijunjung tinggi oleh setiap investor yang masuk. Namun fakta di lapangan hari ini berbanding terbalik, kesepakatan sakral tersebut diduga kuat diinjak-injak dan dikhianati oleh pihak perusahaan di kawasan IGIP.
Karena pengkhianatan itulah, massa aksi hari ini mengambil sikap tegas tanpa kompromi. Mereka meminta dengan satu suara agar seluruh kegiatan bongkar muat di dalam kawasan tersebut dihentikan total hari ini juga. Tidak ada lagi istilah koordinasi yang hanya menjadi permainan kata di atas kertas. Massa meminta penghentian total sampai ada kesepakatan baru yang dituangkan hitam di atas putih, yang jelas, transparan, dan benar-benar berpihak kepada PBM lokal Desa Sambalagi.
Massa bahkan meminta untuk masuk ke dalam area perusahaan untuk memastikan sendiri bahwa aktivitas tersebut benar-benar berhenti. Bagi mereka, penghentian itu adalah bentuk penghargaan paling minimal atas tanah-tanah mereka yang telah diserahkan demi berdirinya kawasan industri raksasa tersebut. Jika tanah sudah mereka serahkan, maka suara mereka wajib dihargai.
Aksi ini menjadi sinyal keras bagi PT IGIP. Ini bukan aksi cari masalah, ini adalah aksi tagih janji sejarah. Janji yang akan menjadi catatan untuk anak dan cucu mereka kelak bahwa hari ini orang tua mereka pernah berdiri dan berjuang untuk masa depan mereka. Jika janji pemberdayaan lokal ini terus diingkari, maka Sambalagi tidak akan pernah padam dan siap melumpuhkan aktivitas kawasan industri tersebut dengan gelombang massa yang jauh lebih besar.
Aksi masih berlangsung.
(Redaksi/ Whatsapp: 081371835194)












