MOROWALI – Komitmen Kawasan Industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menuju green industry bukan sekadar jargon. IMIP terus mempercepat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di dalam kawasan.
Sejumlah PLTS sudah beroperasi. Di antaranya milik PT ITSS 0,957 MWp, PT GCNS 0,304 MWp, OSMI 0,188 MWp, dan PT BTR yang paling besar 9,5 MWp.
Tidak berhenti di situ, tenant lain juga mulai tancap gas. PT Dexin Steel Indonesia (DSI) tengah membangun PLTS atap raksasa 66 MWp dengan 119.800 panel surya di lahan seluas hampir 40 hektare. PT PMMI segera merampungkan PLTS 0,57 MWp, sementara PT QMB dan PT Sesmo juga bersiap. Bahkan PT Sesmo akan membangun PLTS 200 MWp yang butuh lahan 200 hektare.
Deputy Operational Director PT IMIP Yulius Susanto menegaskan, ini adalah bukti IMIP serius mengurangi emisi dan mendukung target Net Zero Emission 2060 pemerintah.
“Kami sudah berkomitmen menuju green industry. Salah satunya pengurangan penggunaan bahan bakar fosil,” kata Yulius, Senin (28/9/2026).
Menurut Yulius, pengembangan PLTS di IMIP tidak satu model. Ada yang pakai konsep unik Canal Top Solar PV di atas kanal seperti di GCNS dan ITSS, ada juga PLTS atap di gedung industri seperti OSMI, BTR, dan DSI.
Ia mengakui tantangannya tidak kecil, karena butuh lahan luas dan biaya besar.
“Memang tidak mudah, penerapan PLTS ini butuh cost besar. Tenant kami PT Sesmo yang kembangkan 200 MWp saja butuh 200 hektare. Tapi kami terus dorong tenant pakai energi surya,” tegasnya.
Meski belum bisa menggantikan 100 persen energi fosil, PLTS menjadi langkah nyata diversifikasi energi.
“Harapan kami dengan PLTS ini bisa menyatakan ke dunia bahwa kita kawasan industri yang benar-benar serius dan komitmen tinggi menuju green industry,” tandas Yulius.
(Yohanes)












