Morowali — Laut tenang dan semangat kebersamaan menyambut Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf saat melaksanakan Salat Idul Adha 1447 H bersama masyarakat di Kecamatan Sombori Kepulauan, Rabu (27/5/2026). Kehadiran orang nomor satu di Morowali itu bukan sekadar seremonial, melainkan penegasan komitmen pemerataan pembangunan antara daratan dan kepulauan.
Bertempat di Desa Tanjungharapan, Iksan menegaskan bahwa pemerintah hadir di wilayah kepulauan pada hari besar Idul Adha sebagai wujud nyata keadilan bagi seluruh warga Morowali.
“Alhamdulillah kita memasuki Idul Adha yang kedua di masa pemerintahan kami. Tahun pertama kami di Bungku Selatan, ini adalah komitmen pemerintah dalam pelayanan, sebuah keadilan untuk daratan dan kepulauan,” ujar Iksan di hadapan jamaah.
Menjadikan Janji sebagai Tradisi
Bupati yang akrab disapa Iksan itu memastikan tradisi Salat Idul Adha di kepulauan akan terus dilanjutkan selama lima tahun masa kepemimpinannya. Tradisi ini sekaligus menjadi cara pemerintah mendekatkan diri dengan masyarakat pesisir.
“Kami insyaallah lima tahun ini akan ber-Idul Fitri di daratan dan ber-Idul Adha di kepulauan. Itu adalah janji kami,” tegasnya.
Menurut Iksan, kehadiran langsung pemerintah di tengah masyarakat kepulauan adalah simbol bahwa tidak ada jarak antara pemimpin dan rakyat. Langkah ini diharapkan membuat warga kepulauan merasakan perhatian yang sama dengan masyarakat di wilayah daratan.
“Saya yakin dan percaya Morowali akan selalu maju, mandiri, dan punya keadilan. Kami yang hadir di tengah-tengah bapak ibu semua adalah bentuk kedekatan yang harus selalu kami bangun, tidak ada jarak satu dengan yang lain,” katanya.
Momentum Kebersamaan dan Pemerataan
Iksan menekankan bahwa Idul Adha bukan hanya momentum ibadah kurban, tetapi juga pengingat pentingnya kebersamaan, persaudaraan, dan perhatian yang merata ke seluruh wilayah Kabupaten Morowali.
Dengan semangat itu, Pemda Morowali berkomitmen menjaga arah pembangunan yang berkeadilan, baik untuk masyarakat daratan maupun kepulauan, agar tidak ada wilayah yang merasa tertinggal.
(Yohanes)















