Morowali— Forum Rakyat Bersatu (Forbes) Morowali kembali melayangkan kritik tajam terhadap operasional Pelabuhan Bungku, yang dinilai belum berpihak pada kepentingan masyarakat lokal. Dalam pernyataan resminya, Forbes menilai pembangunan pelabuhan peti kemas di tengah Kota Bungku tidak hanya bermasalah secara tata ruang, tetapi juga menjadi simbol ketimpangan sosial yang kian mencolok di tengah masyarakat, Selasa(05/08/2025)
Salah satu sorotan utama adalah minimnya pemberdayaan tenaga kerja lokal dalam aktivitas pelabuhan. Di tengah geliat industri dan lalu lintas kontainer yang padat setiap hari, pemuda-pemuda lokal justru hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri.
“Ini bukan sekadar isu ekonomi, tapi soal keadilan sosial. Pelabuhan seharusnya membuka lapangan kerja bagi warga sekitar, bukan malah diserahkan sepenuhnya ke pihak luar,” tegas Bung Endha, Juru Bicara Forbes Morowali, dalam konferensi pers.
Tak hanya soal tenaga kerja, Forbes juga menyoroti dampak tata ruang akibat penempatan pelabuhan di tengah kota. Arus truk kontainer besar, aktivitas bongkar muat yang semrawut, serta penumpukan kontainer di area terbuka dinilai telah menciptakan kesan kumuh dan menurunkan estetika Kota Bungku.
“Alih-alih menjadi pusat ekonomi baru, Bungku justru terancam menjadi kota pelabuhan yang semrawut dan tak tertata,” tambah Bung Endha.
Forbes juga menyesalkan tidak adanya pelibatan masyarakat adat dan tokoh budaya dalam proses perencanaan maupun pembangunan pelabuhan. Hal ini dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap identitas lokal dan nilai-nilai budaya setempat.
Atas berbagai permasalahan tersebut, Forbes mendesak pemerintah daerah, Pelindo, serta pihak-pihak terkait untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keberadaan Pelabuhan Bungku. Evaluasi ini tidak hanya menyentuh aspek teknis dan infrastruktur, tetapi juga menyasar, Kebijakan rekrutmen tenaga kerja lokal, Penataan zona logistik agar tidak merusak lingkungan kota dan Pelibatan masyarakat dalam setiap pengambilan kebijakan
“Pelabuhan Bungku seharusnya menjadi peluang emas bagi Morowali. Tapi tanpa pemberdayaan tenaga lokal dan pengelolaan yang manusiawi, ia justru akan menjadi sumber masalah sosial dan lingkungan yang berlarut-larut,” pungkas Bung Endha.
Yohanes