MOROWALI, bedahnusantaraindonesia.id — Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf, memaparkan secara mendalam tentang pentingnya Telaan Staf dalam pengelolaan keuangan daerah saat pertemuan bersama seluruh wartawan Morowali di Resto Cafe Ba’a, Desa Ipi, Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Selasa (29/09/2026).
Dalam pemaparannya, Bupati Iksan menekankan bahwa telaan staf bukan sekadar kelengkapan administrasi, melainkan instrumen penting untuk memastikan setiap belanja daerah dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan pertimbangan matang.
Bupati mengingatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar tidak terjebak pada pola belanja yang tidak prioritas dan tumpang tindih antar OPD. Setiap usulan program harus melalui filter yang ketat, harus jelas urgensi, manfaat, dan dampaknya bagi masyarakat.
Menurutnya, esensi dari telaan staf adalah untuk membatasi dan meng-counter program yang tidak terlalu prioritas. Tujuannya satu, agar keuangan daerah tetap terjaga dan tidak habis hanya untuk belanja yang kurang bermanfaat.
“Pertanyaan saya simple: kita mau daerah ini punya uang atau tidak punya uang? Ini soal pilihan. Apakah kita mau menyelamatkan keuangan daerah atau mau menghabiskan anggaran tanpa arah yang jelas,” tegas Bupati Iksan.
Ia menjelaskan, dalam kondisi keuangan daerah, diperlukan kebijaksanaan untuk memilih mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa ditunda. Jangan sampai semua OPD mengajukan program yang sama dan berulang hanya untuk menghabiskan anggaran, sementara program prioritas yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat justru terabaikan.
Bupati juga menegaskan bahwa dirinya bertanggung jawab penuh atas setiap rupiah uang rakyat yang dikeluarkan.
“Satu rupiah itu tanggung jawab saya. Ini uang rakyat. Jadi saya harus pastikan penggunaannya benar-benar tepat sasaran,” ujarnya.
Ia pun membuka ruang komunikasi seluas-luasnya kepada seluruh OPD. Jika ada program yang memang dinilai prioritas dan bisa dijelaskan secara logis dan rasional, ia tidak akan pernah menghambat.
“Kalau kalian dekat dengan Bupati dan bisa menjelaskan dengan baik, Pak Bupati kami mau seperti ini karena alasannya begini, saya tidak pernah menahan. Silakan jelaskan, saya akan dengarkan,” tambahnya.
Melalui penekanan telaan staf ini, Bupati Morowali ingin membangun budaya baru dalam birokrasi, yaitu budaya hemat, efisien, dan bertanggung jawab. Bukan budaya asal habiskan anggaran di akhir tahun.
Langkah ini diharapkan dapat membuat keuangan Daerah Kabupaten Morowali lebih sehat, program prioritas di bidang kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dapat berjalan maksimal, serta masyarakat bisa merasakan langsung manfaat dari pengelolaan keuangan yang bijak dan transparan.(red)












