Morowali – Tak hanya menjalani rutinitas kerja di Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), sebagian karyawan juga memberi inspirasi dari berbagai aktivitas positif lainnya. Seperti yang dilakukan Meidi Yurianti Mangkasa.
Di sela rutinitas sebagai Analis Kimia dan Air pada Departemen Testing Center PT TTRI, salah satu tenant di Kawasan IMIP, Meidi menjalani pekerjaan lain, yakni mengelola usaha greenhouse di Desa Makarti, Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah.
Di sana, ia tak lagi mengenakan seragam analis laboratorium. Meidi menjadi petani hidroponik, pengelola usaha, sekaligus konten kreator.
“Kalau mau untung lebih, memang harus korban waktu,” kata Meidi, saat dijumpai di greenhouse miliknya, Kamis (25/09).
Meidi mulai bekerja di kawasan industri terintegrasi berbasis mineral nikel sebagai analis laboratorium yang berhubungan erat dengan sampel dan angka. Salah satu sampel yang dianalisis adalah material ore. Dari proses analisis tersebut, kadar nikel dapat diketahui dan menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas serta nilai ekonominya.
Soal merintis usaha hidroponik, Meidi mengaku bermula dari hal sederhana dengan mencoba menanam sendiri di balkon tempat kosnya di Desa Labota. Ia membeli polibag, mencari tanah yang dianggap subur, lalu mulai menanam berbagai tanaman.
Bagi Meidi, keberhasilan menuai apa yang ia tanam sendiri memberikan kepuasan berbeda. Tanaman itu kemudian dimasak sendiri, juga dibagikan kepada teman dan tetangga kos.
Suatu ketika, selada hasil panennya ia unggah melalui media sosial dan temannya tertarik membeli. Saat itu Meidi menjualnya sekitar Rp5.000 per tanaman. Dari transaksi sederhana tersebut, sebuah kesadaran muncul bahwa hobi itu ternyata bisa menjadi rupiah.
Ia pun mulai mencari tahu siapa yang membutuhkan selada di Bahodopi. Restoran, usaha burger dan kebab, frozen food, hingga berbagai usaha kuliner menjadi calon konsumennya.
Maret 2023, Meidi mulai membangun greenhouse yang lebih serius. Panen pertama dari pengembangan tersebut dilakukan pada Mei 2023. Usaha itu kemudian diberi nama Mey Farm Hidroponik.
Pada tahap pembibitan, tanaman mendapat konsentrasi nutrisi sekitar 500–600 ppm. Setelah sekitar 10 hari, dipindahkan ke tahap remaja dengan konsentrasi sekitar 800–900 ppm selama 17–20 hari. Berikutnya adalah meja dewasa, dengan konsentrasi sekitar 1.000–1.200 ppm hingga tanaman siap dipanen pada usia sekitar 40 hari.
Meidi memilih menciptakan ruang hijau kecil melalui tanaman hidroponik. Ia tidak mengklaim greenhouse miliknya dapat menyelesaikan persoalan lingkungan di kawasan industri terintegrasi berbasis mineral nikel tersebut. Namun, ia melihat aktivitas sederhana itu sebagai bentuk kontribusi yang bisa ia lakukan.
“Saya berharap hidroponik ini bisa menyumbangkan sedikit oksigen di kawasan industri IMIP, khususnya Bahodopi,” ujarnya.
Saat ini, Meidi sedang memperluas greenhouse untuk meningkatkan kapasitas produksi selada. Ia berharap dapat merekrut masyarakat sekitar Bahodopi dan membuka lapangan pekerjaan baru.
Ia menyadari, status karyawan tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang berlangsung selamanya. Karena itu, Meidi ingin memiliki sumber penghasilan lain yang dibangun sejak sekarang. Hidroponik menjadi ruang relaksasi untuk mengelola tekanan dan rutinitas pekerjaan di laboratorium.
Ada cerita yang membuat Meidi berbeda dari kisah karyawan yang memiliki usaha sampingan. Ia justru menggunakan apa yang dimiliki untuk membangun pilihan lain. Ilmu kimia menjadi modal, pekerjaan di laboratorium melatih ketelitian, kemudian hobi sebagai pintu masuk dengan memanfaatkan media sosial sebagai alat pemasaran.
“Saya harus ngonten biar orang tahu saya jual selada,” ujar Meidi.
Eka Oktavia, salah satu konsumen dan pemilik Frozen Food Bahomakmur mengaku sering memesan selada di Mey Farm Hidroponik. Penilaiannya, rasa seladanya tidak pahit, ukurannya besar dengan harga terjangkau, Rp10.000 per pohon.
“Kemasannya proper, bisa tahan hingga 10 hari dalam lemari pendingin,” kata Eka Oktavia.
Yohanes












