Morowali- Di tengah zaman yang bergerak begitu cepat, ketika informasi datang silih berganti dan perhatian manusia semakin mudah terpecah, sekelompok pemuda Desa Wosu, Kecamatan Bungku Barat, memilih mengambil langkah yang sederhana namun penuh makna. Mereka membuka ruang baca di tepi laut yang diberi nama Halaman Pesisir.
Berlokasi di tanggul pesisir Desa Wosu, kegiatan ini menjadi ruang belajar terbuka yang dapat diakses oleh masyarakat secara gratis setiap akhir pekan. Namun bagi para penggeraknya, Halaman Pesisir bukan sekadar lapak baca atau tempat untuk menghabiskan waktu luang. Ia lahir dari sebuah kegelisahan yang mendalam tentang masa depan generasi muda dan pentingnya membangun budaya berpikir di tengah masyarakat.

Salah satu penggerak kegiatan, Rahmat Hidayat, mengatakan bahwa kemajuan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar investasi yang masuk atau seberapa banyak pembangunan fisik yang berdiri. Lebih dari itu, kemajuan juga ditentukan oleh kemampuan masyarakatnya dalam memahami, mengkritisi, dan menentukan arah perubahan itu sendiri.
“Kami percaya bahwa membaca bukan hanya kegiatan menambah pengetahuan, tetapi juga proses membangun kesadaran. Sebab masyarakat yang gemar membaca akan lebih mampu memahami realitas, mempertanyakan ketidakadilan, dan ikut menentukan masa depannya sendiri,” ujar Rahmat, Jum’at (18/09/2026)

Secara filosofis, Halaman Pesisir memadukan dua hal yang setiap hari ditemui masyarakat Wosu, yaitu laut dan buku. Laut mengajarkan tentang keluasan pandangan, sementara buku mengajarkan tentang kedalaman pemikiran. Dari pertemuan antara keluasan dan kedalaman itulah, para pemuda berharap akan lahir sebuah ruang yang tidak hanya mengajak masyarakat untuk membaca tulisan, tetapi juga untuk membaca kehidupan.
Menurut Rahmat, di tengah berbagai perubahan besar yang terjadi di daerah saat ini, generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus memiliki pengetahuan yang cukup untuk memahami apa yang sedang terjadi, siapa yang diuntungkan, siapa yang tertinggal, dan bagaimana masa depan daerah ini harus diperjuangkan bersama.
“Banyak orang berbicara tentang pembangunan, tetapi sedikit yang berbicara tentang pembangunan cara berpikir. Padahal perubahan yang tidak dibarengi dengan kesadaran hanya akan menghasilkan masyarakat yang ikut berjalan tanpa benar-benar memahami ke mana arah perjalanan itu,” tambahnya.
Karena itu, Halaman Pesisir hadir sebagai ruang yang sederhana namun berani. Ia mencoba menanamkan kembali kebiasaan membaca, berdiskusi, dan berpikir kritis di kalangan masyarakat pesisir. Sebuah ikhtiar kecil dari pemuda desa untuk memastikan bahwa generasi yang tumbuh di tepi laut tidak hanya mengenal luasnya lautan, tetapi juga mengenal luasnya pengetahuan.
Bagi para penggeraknya, setiap buku yang dibuka adalah awal dari sebuah perubahan. Sebab masa depan yang baik tidak pernah lahir dari sebuah kebetulan, melainkan dari masyarakat yang terus mau belajar, mau berpikir, dan berani mempertanyakan keadaan.
Halaman Pesisir pun menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di tepi laut Desa Wosu, perjuangan untuk membangun daerah tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fisik semata, tetapi juga melalui upaya yang lebih mendasar, yaitu membangun manusia yang berpikir, sadar, dan berdaya.(red/*)












